Tepung Goreng — Sebuah Budaya Global di Banyak Negara

Cireng alias (tepung) aci digoreng. Gambar diambil dari situs resepasik.com

Di dalam kulkas saya, sebelah atas — bagian freezer, ada cireng yang siap goreng, frozen. Tinggal di-thaw di microwave barang 1 menit, sembari wajan memanaskan minyak dengan jumlah melimpah. Saat minyak sudah panas; cireng dicemplungkan hingga semua bagian terendam. Beberapa saat kemudian dia akan mengambang; dan setelah 3–4 kali dibalik agar merata, maka cireng siap dimakan dengan cocolan sambel merah yang disertakan dalam kemasannya.

Sebuah kelezatan sederhana tanpa ritual memasak yang luar biasa.

Dan betapa sebenarnya bahan baku Cireng ini hanya itu-itu saja. Terbuat dari tepung tapioka serta sedikit santan — dan tambahan penyedap rasa, tentunya. Tapi entah kenapa, paduan adonan tepung dan metode masak deep fried atau goreng dengan minyak melimpah ini adalah jurus ampuh untuk membuat makanan lezat — walau mungkin tidak terlalu sehat, tampaknya.

Dan jika kita tilik seantero negeri kita, maka bukan cireng saja jajanan sederhana yang enak apa adanya. Beberapa juga tidak bisa dikategorikan jajanan, tapi makanan berat dan bahkan menyandang predikat makanan khas daerah tertentu di Indonesia.

Cilok dan saus sambalnya. Bakwan atau tempe goreng dengan cabe rawitnya. Pempek dengan cukonya. Cakwe. Ote-ote. Bolang-baling. Siomay. Daftar yang tidak ada habisnya.

Betapa familiar. Kaidah yang dianut sejatinya hanyalah tepung yang dicampur air dan beberapa tambahan bahan lainnya, dibentuk sehingga mencapai ukuran dalam jangkauan gigitan manusia. Lalu dicemplungkan dalam minyak panas sehingga tercelup sepenuhnya. Selanjutnya, minyak panas melakukan tugasnya; memaksa partikel air menguap ke udara, hingga tercapai tekstur renyah tepat saat tergigit gigi kita.

Dan tahukah Anda, bahwa Indonesia — bukan satu-satunya yang memiliki budaya tepung goreng ini?

Churros. gambar diambil dari www.youtube.com/user/GemmaStafford

Sebut saja Spanyol, dengan Churros-nya. Yang entah sebenarnya asal muasalnya darimana. Ada yang bilang dari Cina, ada juga yang ngotot dari Portugal. Entah, mungkin saja sebenarnya pencetusnya satu nenek moyang dengan penemu cireng atau pempek? Yang jelas; ada kesamaan yang tampak nyata — sama sama tepung goreng.

Atau donat warna-warni yang ada di setiap pojokan pusat perbelanjaan modern di kota-kota kita? Bukankah sejatinya juga adonan tepung yang dilubangi dan lalu digoreng juga? Walaupun pertama tersebut di sejarah Amerika; tapi tengoklah juga saudara sepupunya: Ciambelle dari Italy, Fartura dari Portugal, Lokma dari Turki, atau Jalebi dari India. Lagi-lagi, sebuah daftar panjang tentang tepung goreng yang dipermanis.

Apple fritter, cocok sebagai teman minum kopi. Gambar diambil dari www.babble.com

Dan hey, bahkan ternyata dunia punya nama lain dari tepung-goreng-berisikan-apa-saja, yaitu fritter. Ya. Gulingkan apa saja kedalam adonan tepung, lalu gorenglah. Itu adalah fritter. Banana fritter, Pineaple fritter. Cheese fritter. Anything fritter.

Jadi, suatu saat Anda ingin menggoreng tepung apapun itu, agar tercapai efek keminggris yang maksimal, cobalah kaidah ini. Sebutlah tahu goreng dengan tofu fritter, atau bakwan dengan cabbage-carrot fritter. Niscaya Anda layak mendapat predikat kemampleng dimata teman-teman Anda.

Hit enter to search or ESC to close