Kulina — Sebuah cerita baru.


Beberapa bulan yang lalu, saya menulis artikel tentang cerita bagaimana restoran saya di Jogja harus tutup. Banyak hal yang terjadi, setelahnya. Puluhan email yang datang untuk sekedar bertanya lebih lanjut, dan juga banyak yang menawarkan kerjasama untuk membuat restoran lagi.

Tapi saya, entah kenapa selalu teringat quote entah dari siapa. Konon sih kata Einstein; Insanity is doing the same thing over and over again, but expecting different results.

Itulah kenapa saya tidak berencana membuat restoran (fisik) atau foodcourt lagi. Everything goes online, dan satu demi satu bisnis brick-and-mortar yang saya miliki akan diakhiri.

In the end, it’s just business.

Itu yang selalu saya jawab ketika orang bertanya ”Kenapa kok foodcourt-nya ditutup? Apa ngga kasihan dengan pegawainya? Trus itu yang udah jualan disana pada kemana?”

But deep down inside, I considered food is not just business. Makanan adalah sumber kehidupan, like, literally. I know that for sure, that food is life.


Setiap hari saya memasak. Well, most of the time, ketika saya berada di Jogja. Saya menikmati segala prosesnya; belanja ke pasar tiap akhir minggu, menata belanjaan di kulkas dengan urutan yang hanya saya tahu logikanya, hingga sampai ke The Final Moment; memasak bento untuk bekal makan siang anak saya, tiap hari kerja — pukul 6 hingga 6.30 pagi.

One bento every weekday. For more than a year already. Source: my instagram account. That’s my son on the upper left, btw.

Sebagai tukang masak, tahukan Anda apa yang paling bikin sedih? Bukan gara-gara bahan baku mahal. Bukan gara-gara jempol yang memerah karena gesekan pisau. Bukan gara-gara mata berair karena mengiris bawang.

Memasak adalah kontemplasi personal. Sebuah meditasi dalam bentuk gerak harmoni. Kelindan berbagai disiplin ilmu; fisika, biologi, kimia, dan psikologi yang berujung pada karya seni. Satu-satunya jenis artwork yang bisa dirasakan dengan seluruh indra, yang berakhir menyatu ke tubuh penikmatnya.

Ketika makanan selesai dari panci atau wajan berpindah tempat ke piring di meja makan, pada saat suapan pertama dilakukan sesaat setelah harum menguar masakan tercium — sebuah perasaan yang semakin familiar. S

Yang bikin sedih adalah.. ketika tidak ada makan masakan saya. Ketika tidak ada yang menikmati karya saya.

Ini menjelaskan kenapa setiap kali anda minta dimasakin orang yang hobi masak, tanpa banyak tanya dia akan memasak untuk Anda.

That being said, an artist will always need his/her fans.


Passion to cook, adalah driving force yang sangat kuat, dan ini sering menjadi alasan satu-satunya seseorang membuat restoran. Para pemasak ini, butuh pelanggan untuk mereka terus bisa berkarya.

This is the moment where things getting complicated.

Setelah bertahun-tahun berkutat di bisnis kuliner, saya paham sekali bahwa bisa masak makanan enak— itu hanya sebagian kecil dari komponen dalam mendirikan restoran. Banyak faktor lain yang ikut menentukan.

Bikin restoran butuh modal yang relatif besar. Anda butuh tempat yang mudah diakses agar mendapatkan banyak pelanggan. Anda butuh meja, kursi, dan peralatan yang layak. Anda butuh mesin kasir atau komputer beserta software untuk mencatat penjualan.

Tidak hanya berhenti sampai kebutuhan fisik saja. Setelah membayar sewa tempat yang mungkin nilainya ratusan juta rupiah, merenovasi bangunan dengan sebelumnya berkutat dengan para kontraktor dan arsitek agar sesuai dengan keinginan Anda (yang juga artinya ada pembengkakan luar biasa di RAB), kini waktunya jualan.

Oh wait, kalau Anda memasak, lalu siapa yang akan melayani pembeli? Artinya harus ada karyawan untuk mencatat pesanan, dan yang menerima uang penjualan. Dan tentunya manajer yang akan membawahi mereka semua, agar semua bisa berjalan dengan lancar.

Hingga menuju sehari sebelum restoran buka pertama kalinya. Berapa daging yang harus Anda beli? Berapa kilo bumbu, sayur, dan buah yang harus ada di dapur restoran Anda? Kira-kira berapa orang yang akan datang dan makan besok? Apakah persediaan cukup? Apakah kurang? Bagaimana apabila ternyata tidak ada orang yang datang sama sekali, karena Anda tidak punya cara untuk promosi?

Lalu, berapa harga masakan yang harus Anda jual? Oke lah bahan bakunya sih mungkin ngga seberapa, tapi bagaimana dengan biaya renovasi dan ratusan juta rupiah yang dikeluarkan untuk biaya sewa? Bukankah itu harus dihitung semuanya?

Ambil nafas dulu.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti para culinary artists, atau calon pengusaha yang ingin berbisnis kuliner. Tapi kenyataannya dilapangan adalah; tidak mudah untuk terjun ke bisnis ini. Restoran baru muncul setiap hari, dan setiap hari pula, ada restoran yang tutup karena tidak laku — atau salah manajemen. Atau sesederhana karena pemiliknya capek ngurusin bisnis tersebut.

This is not fair.

Kenapa para jago masak, street culinary artist, home chéfs, tidak bisa dengan mudah berbagi hasil karyanya, tanpa diribetkan dengan keharusan mempunyai modal besar dan kemampuan manajemen?

Kenapa penikmat makanan, atau sekedar orang yang ingin makan siang atau malam tanpa punya waktu datang ke restoran, dan memesan delivery harus membayar terlalu mahal karena restoran tersebut mengeluarkan modal besar untuk sewa tempat? Toh mereka juga ngga makan di restoran tersebut.

Sebagai seorang pebisnis kuliner yang sudah pernah (beberapa kali) menutup restonya, saya paham sekali bahwa ada masalah besar, garis demarkasi yang tebal antara pemasak dan penikmat masakan.

Lalu, adakah cara agar masalah ini dipecahkan?

Beberapa orang telah memulai membuat virtual restaurant berbentuk e-commerce website/apps—dengan saya salah satunya. Beberapa membuat online catering dan berjualan di Instagram. Dan yang terakhir ini banyak bermunculan. Menarik sekali, karena masalah modal besar bisa dilewati. Dapur online catering bisa berlokasi dimana saja, tanpa harus ribet renovasi tempat atau sewa mahal.

Tapi kemudian ternyata masih banyak masalah yang muncul. Online caterer — setiap saat — selain harus mengelola akun media sosialnya agar mendapatkan pelanggan, mereka juga harus selalu siap menjawab pertanyaan berulang lewat WhatsApp, Line, KakaoTalk, dan semua messenger yang lain:
“Menunya apa aja Sis?”, “Caranya order gimana Sis?”, “Transfer kemana Sis?”

Ketika tiba saatnya pembayaran, maka harus cek ke rekening bank. Pun ini bukan proses yang menyenangkan untuk pelanggan untuk menunggu konfirmasi setelah mereka membayar. Apalagi jika mereka mau bayar pakai kartu kredit. Opsi ini jelas sulit dilakukan.

Inilah alasan kenapa Kulina, startup ini dibuat. Kami ingin membuat para pelanggan, orang kantor maupun keluarga bisa memesan langsung dari online caterer atau Home Chéf favorit mereka.

An app that connects online caterer/home chéfs to their customer directly.

Kami ingin agar para jagoan masak fokus pada pekerjaan favorit mereka; memasak makanan lezat. Segala hal terkait manajemen order, pembayaran, dan hingga pengantaran oleh kurir sebisa mungkin akan kami urusi. Kami ingin agar culinary artists bisa berkomunikasi langsung dengan pelanggannya, dengan penikmat hasil karyanya.


Dan yang terpenting lagi, bahwa agar masing-masing pihak bisa mendapatkan nilai maksimal dari yang mereka keluarkan. Para jago masak bisa membuat makanan dengan kualitas terbaik dengan harga terjangkau, pun secara fair akan di review oleh pelanggan yang telah menikmati masakan mereka.

Now, I’m afraid I’ve become boring because this article has gone to advertorials.

Out now.
Thanks for reading, folks
. Cheers.

  • Kulina, akan segera launch dan bisa didownload versi Androidnya di Play Store bulan Oktober 2015 ini. iOS version menyusul.
    Bagi yang sign up sekarang akan mendapat gratis saldo Rp 25,000 — dan tambahan saldo lagi hingga Rp 250,000 jika mengundang rekan dan saudara untuk download dan menggunakan apps ini.

Update: Kulina kini telah launch di PlayStore dan bisa diunduh disini

Hit enter to search or ESC to close