Kenapa sih pada bunuh diri? (sebuah perspektif)

Tiga hari sebelum meninggal; Anthony Bourdain masih mengunggah foto makan siangnya. Seporsi steak dari yang dia santap di Alsace — daerah Perancis sebelah timur, sebagai bagian dari syuting acara yang diampunya; Parts Unknown yang sedianya akan tayang di CNN Travel.

Foto instagram terakhir Tony.

Saya tidak kenal dia; pun juga tidak punya foto bareng ketika ketemu di sebuah acara, seperti yang diunggah beberapa rekan yang saya kenal di media sosial begitu muncul berita duka tersebut (percayalah; ini ngiri — bukan nyinyir).

Tony (ijinkan saya memanggil Anthony Bourdain seperti teman-teman beliau memanggilnya) punya antusiasme yang luar biasa terhadap makanan dan kehidupan dapur. Tony mengawali karir sebagai seorang koki yang merambah dunia jurnalisme — diawali dari artikel pertamanya yang dimuat di New Yorker; berjudul Don’t Eat before Reading This.

Karirnya di sebagai selebriti keliling dunia bisa dikatakan baru dimulai pada umur 44 tahun, setelah artikel New Yorker tersebut. Sebelum itu, dia bahkan belum pernah atau jarang sekali keluar dari Amerika. Umur 20-an? Dia bahkan masih terjebak sebagai pecandu kokain di jalanan.

Setelah masa-masa sulit di jaman mudanya, Tony kini memiliki pekerjaan yang banyak orang idam-idamkan. Keliling dunia, makan-makan dan dibayar. Setiap restoran yang dia datangi bakal jadi laris setelahnya — bahkan sekelas Obama mau makan bersama Tony di sebuah warung Pho di Hanoi, Vietnam. Literally the kind of my dream job.

Lalu kenapa bunuh diri? Kenapa setelah segala banyak tantangan hidup yang dialami Tony dari dulu — justru sekarang dia memilih bunuh diri? Kenapa nggak justru dia masih kecanduan kokain dan nggak punya pekerjaan? Kenapa sekarang?

Sebuah Teori (yang tidak populer) tentang Bunuh Diri

Disclaimer: Tidak ada yang tahu pasti apa yang dipikirkan oleh pelaku bunuh diri. Ini adalah sebuah opini pribadi.

Bagaimana jika bunuh diri tidak hanya disebabkan oleh depresi — tapi justru kondisi dimana seseorang sudah tidak mencapai semua tujuan hidupnya? Setelah melewati banyak masa sulit, mencapai cita-cita — bebas finansial, keliling dunia, dan sudah; tidak ada keinginan lagi karena semua sudah dilakukan.

“Okay, I’m done here. Bye folks!”

Baiklah. Pasti banyak yang tidak setuju tentang teori ini, karena memang rata-rata orang “belum selesai” dengan hidupnya. Masa hidup kita terlalu pendek untuk bisa meraih segala mimpi yang ingin kita capai. Tapi mungkin justru inilah yang membuat kita tetap “hidup”.

Akuilah — kita selalu ingin anak-anak kita selalu menjadi lebih baik dari kita. Seorang pengusaha, ingin anaknya menjadi pengusaha yang lebih sukses dari dia. Seorang dokter ingin anaknya menjadi dokter yang lebih baik dari dia. Kenapa? Karena ada hal-hal yang kita sesali telah kita lakukan dulu, dan hal-hal yang kita sesalkan karena tidak kita lakukan. Kita ingin menjadi lebih baik, tapi waktu kita terbatas; makanya kita ingin anak kita yang menggantikannya.

Disini, musuh kita adalah waktu hidup yang terbatas.

Tapi, apa yang terjadi ketika kita bisa hidup selama kita bisa? Beberapa orang yang saya ajak diskusi tentang kemungkinan hidup abadi — respon mereka rata-rata adalah:

“Emang buat apa hidup selama itu?”

“Aku nggak yakin aku mau hidup sampai ratusan tahun lamanya”

Anehnya, orang-orang yang menjawab ini adalah juga yang mengucapkan “aku pingin anakku jadi xxx karena aku nggak kesampaian xxx”. Kenapa? Bukankah dengan hidup selama kamu mau, maka kamu bisa mencapai xxx itu tanpa harus membebani anakmu yang mungkin punya cita-cita dan cara hidup yang berbeda?

Kondisi ini — menurut opini saya — memberi bukti tentang teori bahwa beberapa (atau bahkan kebanyakan) orang sebenarnya memiliki pemikiran “I’ll be out after I’m done with my things” — hanya saja masa hidup manusia sekarang masih terlalu pendek saja dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan segala tujuan hidup mereka.

Ketika setiap orang punya waktu hidup lebih lama dibandingkan waktu yang mereka butuhkan untuk mencapai cita-citanya, lalu apa? Untuk apa lagi orang ini hidup? They no longer have any purpose in life.

And this is dangerous.

Tapi tunggu. Berbahaya untuk siapa? Sebenarnya ketika orang bunuh diri, yang rugi siapa sih? Ketika terlepas dari agama/afterlife theory — yang rugi kan ya anak-anaknya, pacar/istri/suaminya, dan orang-orang terdekatnya saja kan. Atau kalau itu selebriti, maka para fans nya yang rugi karena ngga bisa lagi menikmati karyanya. Orang yang bunuh diri; ya sudah selesai— nggak bakal ngerasain apa-apa.

Lalu bagaimana agar kita bisa mencegah orang-orang (atau bahkan kita sendiri) ini untuk punya pemikiran bunuh diri? Saya sendiri tidak pasti jawabannya. Tapi satu hal yang pasti menurut opini saya adalah; ketika seseorang masih “belum selesai’ — ketika dia belum mendapatkan semua yang dia inginkan, maka lebih kecil kemungkinan dia “keluar”.

Hidup harus punya tujuan, dan jangan sampai tujuan itu adalah sesuatu yang statis dan setelah dicapai — ya sudah. Make it as a moving target. Kalau itu Thanos, mungkin saja dia menyikapi “ya sudah”nya dengan bertani di Bali. Tapi lain orang, lain cerita.

Atau cara lain adalah menganggap bahwa perjalanan itulah tujuan hidup kita. Bahasa tegalnya:

The Journey is the Destination.

Perjalanan kita memenuhi tujuan hidup adalah tujuan kita.

Seandainya kita bisa hidup selamanya

Btw ngomongin tentang hidup abadi; mungkin ide ini terdengar sangat asing dan tidak masuk akal. Tapi sebenarnya konsep ini sudah sejak dulu ada. Dalam film, tentunya generasi 90-an mengenal Duncan Macleod di serial Highlander. Dalam banyak agama, dikenal tentang konsep kehidupan setelah kematian — yang bukankah ini artinya kita akan hidup selamanya? Atau konsep reinkarnasi — bahwa jiwa adalah recycleable matters yang sambung menyambung, hanya berpindah raga.

Oke tapi yang saya maksud adalah kehidupan yang ada sekarang. Saat ini. Bukan “kehidupan setelah kematian”, atau “jiwa yang berpindah raga”. Saya bicara tentang tubuh yang menyangga kepala yang menjadi tumpuan mata kamu yang sedang membaca paragraf ini. Tentang otak yang mencerna tulisan ini. Bagaimana jika kamu bisa hidup selamanya?

Grafik rata-rata harapan hidup manusia sejak 10,000BC. Sumber.

Sejarah mencatat bahwa angka rata-rata harapan hidup manusia itu stagnan selama beberapa milenia, dan naik drastis secara eksponensial baru satu-dua abad yang lalu. Penyebabnya? Mulai dikenal sanitasi — air bersih, bahaya bakteri dan ditemukannya penicillin oleh Alexander Fleming; yang menjadi salah satu tonggak dunia medis modern.


Melihat grafik yang ada, tidak terlihat tanda-tanda bahwa kenaikan angka harapan hidup itu bakal melambat. Setiap tahun, ada saja temuan dunia medis yang berhasil membuat manusia hidup lebih panjang.

Kalau diteruskan grafiknya, dipekirakan manusia akan menjadi abadi di tahun 2045.

Oh kamu kira saya bercanda?

Ada buanyak perusahaan dan ilmuwan diluar sana yang punya misi yang sama: memperpanjang masa hidup manusia, selama-lamanya.

Ada Calico yang dimiliki Alphabet — holdingnya Google. Jeff Bezos dari Amason juga ikutan mendanai Unity Biotechnology yang mempunyai misi melawan penyakit “menjadi tua”. Kalau ditarik mundur; mungkin awal gerakan ini diawali oleh Ray Kurzweil — dari artikel ini.

Thesis mereka sama; bahwa “kematian” adalah sebuah penyakit. Dan layaknya penyakit, maka kita perlu menemukan obatnya. Toh dulu sebelum antibiotik ditemukan, umur rata-rata manusia cuman 30-an tahun. Harapan hidup sekarang udah nambah lebih dari 2x lipatnya dari jaman itu. Kenapa nggak lanjut 4x lipat, atau bahkan 100x lipatnya?

Okay. Terlepas dari perdebatan mungkin atau tidaknya manusia hidup abadi — mari kita berandai-andai bahwa hal ini benar akan terjadi. Lalu pertanyaan berikutnya; bagaimana kita menyikapi “bunuh diri” di masa depan ini?

Perlukah kita mati kalau kita bisa hidup selamanya?

Oy bro — ngga ada bahasan lain apa selain ngomongin kematian? (mungkin sebagian kamu bakal berpikir gini :D)

Jujur setelah nulis paragraf di atas; saya berhenti sebentar, trus nutup laptop. Lalu artikel ini nongkrong di draft selama 2 hari. Tapi, kepalang tanggung — udah terlanjur diketik di Medium ini; jadi ya diterusin saja.

Dengan teori bahwa ada pemikiran “I’ll be out of my life after I’m done with my things” pasti bakalan lebih banyak orang yang bakal bunuh diri karena mereka merasa sudah “cukup” dengan dunianya. Dan menurut saya — kita harus lebih menghargai pilihan mereka, selama tidak ada yang dirugikan. Sama dengan kita seharusnya lebih menghargai agama dan kepercayaan orang lain. Atau preferensi seksual. Atau orientasi gender.

Bayangkan ini adalah tahun 2718. Teman sekolahmu dulu yang juga bersahabat baik dengan cucumu, mengirimkan sebuah surat undangan selebrasi “Hari Kematian”. Dia sudah hidup selama lebih dari 700 tahun, dan merasa sudah cukup berada di dunia ini. Segala keinginannya sudah tercapai. Dia ingin istirahat selama-lamanya, dan di hari tersebut dia akan melakukan eutanasia. Akan diadakan pesta kebun kecil-kecilan, untuk ketemu teman-teman terdekatnya buat yang terakhir kalinya.

Apakah kamu sedih, atau bahagia?

For me; I’ll be sad by his death, but I’ll celebrate the life he already had, and be more happy about it.

— — — — —

Reference:

Hit enter to search or ESC to close