Kampus penghasil Wirausaha — apa yang salah?

Ada diskusi singkat yang menarik di group WhatsApp #StartupUGM tentang semalam yang di picu oleh salah satu rekan — yang melempar wacana bahwa Stanford adalah kampus penghasil founder startup terbesar, menurut artikel ini. Ujung-ujungnya sih membahas tentang fenomena banyaknya kampus yang memiliki program wirausaha — dan mengklaim sebagai Kampus penghasil Wirausaha.

Diskusi berkembang dengan komentar ringan seperti:
“Kalau semua jadi wirausaha — yang jadi dosen siapa?”, lalu
Tapi nek dadi wirausaha kabeh njuk ra mlaku perusahaane” (kalau semua jadi wirausaha, trus perusahaan ga bakal jalan dong), sampai komentar yang super nylekit kayak gini:

“kampus tugas nya melahirkan alumni bergelar, mosok melahirkan wirausaha, yg ngajar aja kuli kok produce wirausaha”


Minggu kemarin, saya diundang ke mantan kampus dulu — diminta untuk memberikan kuliah. Jadi, saya yang dulu sama sekali nggak ngeh tentang topik ini; yang dulu kuliah aja malasnya setengah mati — bakal ngajar di depan kelas. Bayangkan luar biasa bingungnya saya mau ngomong apa.

Terlebih lagi, sebenarnya mata kuliah Riset Manajemen dimana saya diminta ngisi ini kok saya nggak inget dulu pernah ambil ya jaman kuliah. Entah beneran nggak pernah ambil, atau ya pernah ikut kelasnya — tapi lupa saking nggak menariknya. Oh ya, topik yang saya bawakan adalah tentang sales plesir a.k.a Travelling Salesman Problem.


Travelling Salesman Problem (TSP) ini adalah sebuah masalah algoritma klasik yang muncul dari tahun 1800–an, jaman simbah kita belum lahir.

Contoh problemnya begini:
Seorang sales kasur springbed bernama Tono punya area penjualan di seluruh Jawa. Awalnya dia harus jualan ke 3 kota (Surabaya, Jogja, Jakarta). Karena rumahnya ada di Jogja, maka dia ke Jakarta dulu buat jualan, trus ke Surabaya, lalu balik ke Jogja. Masalah selesai.

Karena jualan kasur laku keras, perusahaan tempat Tono bekerja mau melebarkan sayap ke kota-kota lain, jadilah Tono ditugaskan berangkat ke 25 kota. Nah, disinilah masalah menjadi pelik; karena setiap kota dengan kota yang lainnya mempunyai jarak yang berbeda.

Inilah yang disebut TSP — situasi dimana kita harus menghitung rute paling efisien agar Tono bisa mengunjungi seluruh kota ini, tapi nggak menghabiskan waktu dan biaya transportasi yang tidak perlu.

Btw, saya nggak akan membahas bagaimana memecahkan TSP di artikel ini. Kalau pingin tau lebih lanjut tentang ini, Google aja 😛

Yang sebenarnya menarik adalah — ketika problem ini muncul di buku teks dan mahasiswa diminta untuk mencari solusi untuk memecahkan masalah ini; maka akan muncul beberapa kemungkinan:

  1. Mahasiswa A: “Yang muncul di buku teks kemungkinan muncul di ujian, jadi saya harus belajar memecahkan ini!”
  2. Mahasiswa B: “Pasti si A tahu jawabannya, nanti saya tanya aja sama dia caranya gimana..”
  3. Mahasiswa C: “Jadi sebenarnya ngapain kita harus ngitung rute sales sih. Kan kalau mau jualan springbed tinggal pasang di marketplace aja atau bikin website buat jualan. Ngapain harus didatengin kotanya satu-satu.

Dan tebakan Anda benar. Yang punya bibit wirausaha ya si Mahasiswa C. Sayangnya, dia menjadi yang paling ogah-ogahan untuk memecahkan masalah yang ada di buku teks kampus; justru karena kekritisannya. Dia merasa kalau masalah ini nggak relevan lagi, dan nggak perlu dipecahkan.


Singkat cerita, kuliah saya kemarin lumayan sukses — walaupun tidak semua mahasiswa hadir (hari kamis sore, jumatnya libur long weekend), tapi diskusinya sangat menarik dan mahasiswa/i yang datang sangat kritis.

Kami membahas — bahwa di perusahaan saya, TSP ini adalah salah satu masalah yang sehari-hari harus dipecahkan. Dapur mana yang harus melayani konsumen X, berapa kurir yang diperlukan hari itu, dan rute mana yang harus diambil agar ribuan konsumen bisa mendapatkan makan siangnya tepat waktu.

Saya membawa permasalahan ini dengan memberikan contoh kasus nyata, dimana rute-rute kurir yang dihasilkan oleh algoritma yang efisien akan menghemat biaya ratusan ribu, bahkan jutaan dolar per tahun (bayangkan jika dengan rute ini bisa berhemat Rp 3rb saja per box makan siang, dikali puluhan ribu konsumen tiap harinya).

Efeknya membuat saya cukup kaget, tidak menyangka bahwa respons yang terjadi cukup intens — dan tentunya bukan karena kemampuan public speaking saya yang pas-pasan ini.

Jadi kesimpulannya kira-kira:

  1. Banyak mahasiswa/i yang merasa bahwa apa yang dipelajari di bangku kuliah akan tidak terpakai nantinya; jadi mereka males-malesan (ini kayak saya dulu jaman kuliah).
  2. Mahasiswa yang rajin, berpaku pada textbook dan bahan ujian untuk belajar, tapi nggak bisa menghubungkan antara topik mata kuliah dengan masalah dunia nyata. Akhirnya ada silo yang terbentuk. Studying for the sake of study, not to solve problems.

Pada perspektif saya (dan berdasarkan pengalaman kemarin), ketika Kampus bisa membenturkan antara topik kuliah dengan masalah di dunia nyata dengan konteksnya masing-masing, maka hal menarik terjadi.

Mahasiswa kritis akan tertantang untuk belajar dan memecahkan topik yang ada. Mahasiswa yang rajin akan keluar dari kotaknya — mendapati apa yang mereka pelajari juga merupakan masalah di dunia nyata.

Curiosity sparks. Those little grey cells glow.

Mahasiswa males — ehmm well ya tetep aja sih males; ngga ngaruh.

(Disclaimer: Kulina nggak jualan springbed, tapi langganan makan siang. Dijamin tepat waktu dan menu ganti tiap hari 😋)


Jadi, menurut saya pribadi, kampus memang tidak perlu memaksakan diri mengemban tugas membuat semua muridnya menjadi wirausaha; tapi harus bertanggung jawab penuh untuk selalu membenturkan teori yang diajarkan dengan masalah-masalah di dunia nyata.

Kenapa begini? Karena memang tidak semua orang untuk jadi wirausahawan. Seorang wirausaha haruslah seorang generalis, yang melihat masalah secara kritis, menguasai banyak hal, tapi mungkin saja hanya di permukaan dan tidak paham detil. Sedangkan spesialis hanya akan menguasai sedikit subyek, tapi sangatlah detil dan mendalam.

Kolaborasi spektrum generalis dan spesialis ini lah yang akan menghasilkan inovasi-inovasi disruptif yang luar biasa. Dan ada benang merah tebal yang bisa ditarik — inovasi terjadi karena kita menyadari ada masalah yang harus dipecahkan. Dan budaya “mencari masalah di dunia nyata” inilah yang harus selalu ditumbuhkan di manapun.

Disinilah kenapa Stanford, Harvard dan beberapa kampus tertentu bisa menghasilkan lebih banyak wirausaha dengan kampus-kampus di Indonesia (ada generalisasi di sini, tentunya). Menurut saya; bukan karena mereka punya banyak program wirausaha (saja), tapi ini karena setiap topik pembelajaran di kampus selalu dekat dengan dunia nyata.

Karena mereka diajarkan untuk memecahkan masalah yang ada, bukan untuk mendapat nilai setinggi-tingginya. Nilai adalah “efek samping” dari pemikiran kritis untuk memecahkan masalah, bukan menjadi tujuan kuliah.


Salah satu slide yang saya bawakan ketika kuliah kemarin. Image credit unknown.

Jadi, kalau saya diminta memberi saran gimana caranya agar kampus bisa menghasilkan banyak wirausaha yang bermutu, maka ini list nya:

  1. Program wirausaha itu perlu, tapi ngga akan berhasil kalau “terpisah” dari pembelajaran sehari-hari di kampus.
  2. Pengajar harus selalu update dengan topik yang ada — menghubungkan kasus-kasus di dunia nyata dengan yang diajarkan di textbook. Semakin dekat masalah dengan keseharian kita, maka akan semakin menarik.
  3. Undanglah wirausahawan/praktisi yang relevan untuk ngisi di mata kuliah yang lebih spesifik, bukan hanya di seminar-seminar di hall yang pesertanya ratusan. Kalau topiknya benar-benar cocok, pasti mereka dengan senang hati datang.

Nah, untuk mahasiswa/i, listnya agar menjadi wirausaha atau praktisi yang bermutu dan keren (dan lulus disayang dosen pembimbing):

  1. Jangan males kalau diberi topik tertentu sama dosenmu. Coba google “[nama topik] in real world scenario” atau semacam itu.
  2. Ajak dosenmu berdiskusi atas topik tersebut dan hubungannya dengan dunia nyata. Yakinlah dosenmu pasti bahagia kamu ajak diskusi gitu.
  3. Jangan kebanyakan ikut seminar motivasi. Secukupnya saja. The best motivation came from your own passion and curiosity.

Special thanks buat mas Faizal Makhruz, PhD yang sudah mengundang saya kemarin. It’s an honour.

Hit enter to search or ESC to close